Karya ilmiah menuntut standar komunikasi yang tinggi, di mana setiap kata yang dituliskan harus memiliki makna yang presisi, logis, dan bebas dari ambiguitas. Salah satu fondasi utama dari tulisan akademik yang berkualitas adalah kepatuhan terhadap kaidah kebahasaan, khususnya dalam pemilihan diksi. Penggunaan kata baku dan tidak baku dalam karya ilmiah sering kali menjadi garis pemisah antara naskah yang dianggap profesional dan naskah yang dinilai ceroboh oleh dosen pembimbing atau reviewer jurnal.
Banyak mahasiswa dan peneliti pemula terjebak dalam penggunaan kata-kata yang sudah terlanjur lazim diucapkan dalam percakapan sehari-hari, namun sesungguhnya tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesalahan ini, meskipun terlihat sepele, dapat mengurangi kredibilitas argumen, membingungkan pembaca, dan menghambat proses publikasi atau kelulusan.
Artikel ini akan mengulas secara komprehensif panduan mengenai penggunaan kata baku dan tidak baku dalam karya ilmiah yang benar, menyoroti lima aturan krusial yang dapat langsung diterapkan untuk meningkatkan kualitas, kejelasan, dan profesionalisme tulisan akademik Anda. Untuk panduan tata bahasa, pengembangan diksi akademik, dan tips penulisan lainnya, Anda dapat mengunjungi BAHASA-BAHASA.
Memahami Konsep Kata Baku dan Tidak Baku
Sebelum menerapkan aturan penulisan, penting untuk menyamakan persepsi mengenai definisi kedua istilah ini dalam konteks akademis:
- Kata Baku: Kata yang penggunaan dan pengucapannya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang telah distandarisasi, sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Kata baku bersifat formal, konsisten, dan dapat dipahami secara universal oleh penutur bahasa Indonesia.
- Kata Tidak Baku: Kata yang penyimpangannya dari kaidah baku, sering kali terbentuk dari proses pelafalan yang tidak tepat, pengaruh bahasa daerah, atau bahasa gaul (slang). Kata ini umum digunakan dalam komunikasi informal, tetapi dilarang keras dalam karya ilmiah.
5 Aturan Krusial Penggunaan Kata Baku dalam Karya Ilmiah
Untuk memastikan naskah skripsi, tesis, atau artikel jurnal Anda memenuhi standar ilmiah yang ketat, terapkan lima aturan berikut secara sistematis selama proses penulisan dan penyuntingan.
1. Hindari Bentuk Tidak Baku yang Sudah Terlanjur Lazim Diucapkan
Terdapat banyak kata yang sering salah dilafalkan oleh masyarakat umum, sehingga bentuk salahnya justru terasa lebih “akrab” di telinga. Dalam karya ilmiah, keakuratan bentuk kata adalah harga mati.
- Contoh Tidak Baku: Aktifitas, Analisa, Resiko, Ijasah, Nasehat, Jadual.
- Perbaikan (Baku): Aktivitas, Analisis, Risiko, Ijazah, Nasihat, Jadwal.
- Strategi Praktis: Jangan mengandalkan ingatan atau kebiasaan berbicara. Selalu verifikasi ejaan kata yang Anda ragukan langsung melalui laman resmi KBBI Daring sebelum menetapkannya dalam naskah.
2. Terapkan Kaidah Imbuhan (Morfologi) dengan Tepat
Kesalahan dalam pemberian awalan (prefiks) sangat umum terjadi, terutama pada kata dasar yang diawali dengan huruf tertentu atau kata serapan. Kesalahan morfologi dapat mengubah makna atau membuat kalimat terdengar tidak profesional.
- Contoh Tidak Baku: Merubah, Mensukseskan, Mengkaji, Penyelesaian (dalam konteks tertentu), Mempertanggungjawabkan.
- Perbaikan (Baku): Mengubah, Menyukseskan, Menelaah (atau Mengkaji), Penuntasan, Mempertanggungjawabkan (penulisan serangkai sudah benar, namun sering salah dipisah menjadi “mempertanggung jawabkan”).
- Strategi Praktis: Pahami aturan asimilasi bunyi. Misalnya, prefiks “me-” akan luluh jika bertemu dengan huruf awal k, p, t, s (contoh: meng- + klarifikasi = mengklarifikasi, bukan mengklarifikasikan).
3. Gunakan Kata Serapan Sesuai Ejaan yang Disempurnakan (PUEBI)
Bahasa Indonesia banyak menyerap istilah dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan Belanda. Namun, kata-kata tersebut harus disesuaikan ejaannya dengan kaidah PUEBI agar menjadi kata baku.
- Contoh Tidak Baku: Sistim, Kwalitas, Apotik, Nopember, Tehnik.
- Perbaikan (Baku): Sistem, Kualitas, Apotek, November, Teknik.
- Strategi Praktis: Buat daftar istilah teknis yang sering Anda gunakan dalam penelitian (misalnya: variabel, hipotesis, signifikansi). Pastikan semua istilah tersebut dieja sesuai dengan lampiran kata serapan dalam PUEBI.
4. Hindari Pleonasme dan Pemborosan Kata
Kata baku juga menuntut efisiensi. Pleonasme adalah penggunaan kata-kata yang berlebihan sehingga maknanya menjadi rangkap atau mubazir. Karya ilmiah menghargai kalimat yang padat dan berisi.
- Contoh Tidak Baku: “Para hadirin sekalian diminta untuk maju ke depan.” (Kata “para” dan “sekalian” sudah jamak, “maju” sudah pasti ke depan).
- Perbaikan (Baku): “Hadirin diminta maju.” atau “Peserta diminta mengumpulkan tugas.”
- Strategi Praktis: Lakukan penyuntingan dengan memangkas kata yang tidak menambah makna baru. Jika sebuah kata dihapus dan makna kalimat tetap utuh, maka kata tersebut adalah pemborosan.
5. Pastikan Konsistensi Diksi Sepanjang Naskah
Inkonsistensi dalam penggunaan kata baku dan tidak baku adalah tanda bahwa naskah tidak disunting dengan teliti. Misalnya, di Bab 1 penulis menggunakan kata “analisis”, tetapi di Bab 4 tiba-tiba menggunakan kata “analisa”.
- Strategi Praktis: Gunakan fitur “Find and Replace” (Cari dan Ganti) pada pengolah kata untuk memastikan konsistensi istilah. Tentukan satu istilah baku untuk satu konsep dan gunakan secara konsisten dari pendahuluan hingga kesimpulan.
Peran Bahasa-bahasa.com dalam Meningkatkan Kualitas Tulisan Akademik
Menjaga kebakuan bahasa bukan hanya tentang menghafal kamus, tetapi tentang membangun kebiasaan menulis yang disiplin. Di sinilah platform BAHASA-BAHASA hadir sebagai mitra strategis bagi mahasiswa, peneliti, dan akademisi. Situs ini menyediakan berbagai sumber daya yang dirancang khusus untuk mengasah kemampuan menulis formal, antara lain:
- Panduan Tata Bahasa Baku: Artikel mendalam mengenai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan tata kalimat yang menjadi acuan utama dalam penulisan formal, membantu penulis memahami logika di balik aturan kebahasaan.
- Kamus dan Tesaurus Kontekstual: Alat bantu untuk menemukan diksi atau sinonim yang lebih tepat, formal, dan spesifik untuk menggantikan kata-kata yang terlalu umum, kasual, atau tidak baku.
- Contoh Analisis Kalimat: Bedah kasus kalimat dari berbagai disiplin ilmu yang menunjukkan transformasi dari kalimat yang tidak efektif menjadi kalimat yang memenuhi standar karya ilmiah.
- Tips Penyuntingan Mandiri: Panduan langkah demi langkah untuk melakukan proofreading dan editing naskah sebelum diajukan ke dosen pembimbing atau jurnal ilmiah, memastikan naskah bebas dari kesalahan diksi.
Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di BAHASA-BAHASA, penulis dapat secara mandiri mengidentifikasi kelemahan dalam draf tulisan mereka dan melakukan perbaikan yang sistematis.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah kata gaul atau bahasa daerah boleh digunakan dalam karya ilmiah?
Secara umum, tidak. Namun, ada pengecualian jika kata tersebut merupakan objek penelitian (misalnya, dalam penelitian linguistik atau sosiologi) atau jika itu adalah kutipan langsung dari responden dalam penelitian kualitatif. Dalam kasus kutipan langsung, kata tersebut harus diapit oleh tanda petik dan dijelaskan maknanya.
Bagaimana cara cepat mengecek kebakuan kata saat sedang menulis?
Cara tercepat dan paling akurat adalah dengan membuka laman KBBI Daring (kbbi.kemdikbud.go.id) di tab browser yang terpisah. Hindari mengandalkan koreksi otomatis (autocorrect) dari ponsel atau pengolah kata, karena sering kali alat tersebut menyesuaikan dengan bahasa percakapan, bukan bahasa baku.
Apakah penggunaan kata “di mana” sebagai kata penghubung diperbolehkan?
Tidak. Dalam bahasa Indonesia baku, “di mana” hanya boleh digunakan sebagai kata tanya untuk menanyakan tempat. Penggunaan “di mana” sebagai pengganti kata penghubung “yang” atau “dengan” (pengaruh dari bahasa Inggris “where”) adalah bentuk ketidakbakuan yang harus dihindari. Gantilah dengan struktur kalimat yang lebih tepat, seperti “yang” atau “dengan”.
Kesimpulan: Presisi adalah Cerminan Integritas Akademik
Menguasai penggunaan kata baku dan tidak baku dalam karya ilmiah yang benar bukanlah tentang menghafal aturan tata bahasa yang kaku, melainkan tentang melatih kepekaan terhadap presisi, logika, dan efisiensi bahasa. Setiap kata yang Anda pilih adalah representasi dari ketajaman berpikir dan integritas akademik Anda.
Dengan menerapkan kelima aturan di atas—menghindari bentuk lazim yang salah, menerapkan kaidah imbuhan, menyesuaikan kata serapan, menghindari pleonasme, dan menjaga konsistensi—Anda dapat mengubah draf tulisan yang berantakan menjadi naskah akademik yang tajam, meyakinkan, dan layak dipublikasikan. Jadikan proses penyuntingan sebagai bagian tak terpisahkan dari menulis, dan manfaatkan sumber daya yang tersedia untuk terus mengasah kemampuan Anda.


